Neracanews | MEDAN – Keluarga besar Riski Bonardo Rumapea tidak percaya kalau Abangnya meninggal karena bunuh diri, Rut KP Rumapea (22) menyatakan kalau Almarhum abangnya meninggal karena dugaan kuat dibunuh pada hari Selasa (22/3/2022) Pukul 08:30 Wib lalu.

Kepada awak media pada Minggu (24/4/2022) sekitar pukul 17:40 Wib, Adik Kandung korban mengungkapkan keganjalan yang terdapat pada korban gantung diri di Jalan Tombak, Kelurahan Sidorejo Hilir, Kecamatan Medan Tembung.

“Dari teman baik beliau inisialnya D, kebetulan pada saat 22 maret kejadian itu abang saya itu sendiri di kontrakan, kami satu kontrakan jadi saya di kampung. Lalu pas kejadian itu sekitar pukul 08 : 30 Wib, teman baik nya itu menelepon saya dan mengatakan kalau abang saya sudah tiada, yakin dia menyatakan kalau abang saya bunuh diri,” ungkap Rut.

Untuk memastikan bahwa abangnya benar gantung diri, pihak keluarga mencoba menghubungi Riski, namun yang mengangkat telepon dari pihak keluarga adalah teman dekat nya tersebut yang berinisial D.

“Dan juga Nanguda saya menelepon abang saya, memastikan kabar berikut. Ternyata teman baik nya ini mengangkat telepon dan langsung mengatakan bahwa abang saya 100 % bunuh diri, itu menimbulkan banyak kecurigaan bagi keluarga kami,” sambung Rut.

Pada saat hari kejadian, keluarga Rut kalang kabut sehingga tidak sempat untuk memikirkan penyebab mendiang meninggal dunia. Namun setelah dilakukan penguburan terhadap jenazah barulah timbul rasa janggal.

“Kami segenap keluarga besar kalang kabut mendengar berita kepergian Abang kami, tapi setelah di kebumikan timbul banyaklah kecurigaan atau kejanggalan yang kami dapatkan, ada orang yang gak di kenal datang ke sini (TKP) mengatakan pada pariban saya (keluarga kami di sini) mengatakan bahwa teman baik nya itu sudah menikah, bahkan di hari kejadian Ada beberapa pesan WhatsApp yang terhapus dari HP abang saya yang sempat di baca oleh polisi, dengan posisi hp abang saya yang tidak bersandi. Sementara selama ini mendiang selalu menggunakan sandi bahkan WhatsApp pun bersandi.” ucapnya.

Orang pertama yang mengetahui bahwa Riski gantung diri adalah teman dekatnya berinisial D.

“Orang pertama yang mengetahui teman baik nya itu inisial D. Dengan alasan dia membangun kan kerja, beliau mengatakan abang gak bisa di hubungi, jadi alasan mau membangun kan kerja. Padahal D tidak pernah datang ke kost sepagi itu jika hanya untuk membangunkan mendiang, bahkan abang saya juga sering telat bangun, kenapa dari dulu D selalu ke kost kalau abang saya ngak bisa di bangunin kerja ?
Jadi cerita D kepada saya, dia baru mengantar kan adik nya kerja lalu singgah ke sini dengan pakaian baju tidur, lalu alasan dia karena di ketuk-ketuk gak ada yang buka namun kreta ada di dalam rumah, di congkel lah ini pintu, di congkel lalu di lubang pintu itu dia lihat ada bayangan lalu dia memanggil anak ibu kos dan mereka langsung mendobrak. Yang hal mencurigakan teman baiknya langsung masuk dan berani menurunkan mendiang dengan meminta bantuan kepada anak ibu kost,” ucap Rut merasa ada kejanggalan.

“Anak nya ibu kos sangat shock. Sementara sesuai kata anak ibu kost, teman baiknya ini langsung masuk aja tidak ada histeris,” kata Rut semakin merasa janggal.

Menurut kesaksian anak pemilik kost, bahwa korban meninggal menggantung menggunakan Sal.

“Sesuai dengan kesaksian abang yang menurunkan korban, ditemukan korban menggantung di pintu. Pintu kami itu pendek dan pakuny itu hanya segini (kecil) dan posisi abang saya menggantung pakai sal. Mendiang hanya gini (lengket di Sal) saja tidak ada lilitan satu atau dua lilitan hingga ketika dengkuk nya digini (disorong ke belakang) kan dia sudah terjatuh di bawah,” katanya.

Rut menduga bahwa abangnya sudah dibunuh dibawah dan untuk menghilangkan jejaknya, pelaku menggantungkannya di pintu, seolah – olah agar kelihatan bunuh diri.

“Sudah di bunuh dulu baru di gantung, untuk formalitas bunuh diri, karena tangannya mengngepal, matanya tertutup, lidahnya hanya setengah keluar dan ditemukan tisu di alat kelaminnya, sementara kami di kos ini tidak ada tisu, cuma satu tisu aja di temukan di alat kelaminnya,” bebernya.

Rut menceritakan bahwa almarhum abangnya sebelum meninggal tidak memiliki riwayat sakit dan permasalahan keluarga, keluarga seluruhnya juga menduga kematian mendiang seperti pembunuhan yang sudah jauh hari di rencanakan.

“Karena senin pun dia masih kerja, bahkan hari selasa ini dia mau lanjut kerja, tidak ada tanda-tanda bunuh diri, tidak ada masalah sama keluarga, hanya saja ada beberapa chat yang hilang, kepolisian juga pernah bilang segala yang terhapus bisa kembali, namun ketika hp abang saya di cek, kenapa WhatsApp nya tidak dapat di cek, dengan sebab privasi WhatsApp tinggi jadi mendiang menggunakan pengaturan End to end .” ucapnya.

Dihimpun bahwa di kematian Riski terdapat koper untuk alat bantu bunuh diri, namun setelah dilakukan uji coba kepada keluarga, ternyata pada saat di injak koper tersebut meleot atau penyok.

“Berdasar kan cerita dari teman baik nya yang pertama kali menemukan, dia kata nya pakai koper, sementara pintu kami itu pendek. Abang saya lumayan tinggi, lalu sal nya hanya gini (tidak melilit) lalu setelah dilakukan penguburan, kami balik ke sini, kami cobalah koper itu naik dan koper itukan hanya isi kain sedikit otomatis ketika di injak peot kopernya,” kesalnya.

Lagi – lagi keluarga korban menyebutkan bahwa tidak ada satupun alasan yang meyakinkan mereka kalau Riski mati karena gantung diri.

“Karena tidak ada satu alasan pun yang membuat kami yakin kalau dia bunuh diri, karena tidak ada permasalahan dengan keluarga kami, jadi semua kejanggalan yang kami temukan sangat besar, dugaan kami bahwa dia mati di bunuh, karna abang saya ini sangat bijak dalam bertindak pak, bunuh diri bukan lah tipe mendiang,” tuturnya.

Kejanggalan lain juga disebutkan pihak keluarga, selain ada luka lebam di wajah dan kaki kanan yang bengkak, bekas yang tertinggal dileher lebih dari separuh bagian depan leher.

“Posisi ketika mayat mendiang sampai ke rumah, info yang kami dapat, mendiang gantung dengan sal hanya sekilas lengket, lalu ternyata bekas yang tertinggal di leher mendiang tidak seperti bentuk sal yang tergantung, bahkan sampai sini (menunjukan bekas jeratan mengenai seluruh leher) seharusnya bekasnya hanya separuh, nah ini sampai sini (sampai belakang) seperti memang sudah di ikat dari belakang, begitulah praduga kami, bahkan di sininya ( pipi kiri) ada lebam, jadi saya pernah berpikir mungkin ini efek dari pormalin kali ya, tapi kenapa sebelah, lalu ketika saya memegang kaki mendiang sebelah kanan itu bengkak, saya bedakan dengan yang kiri itu. Jadi banyak kali kejanggalan bekas di tubuh mendiang,” kesalnya.

Selain adik kandung Almarhum, kecurigaan juga disampaikan oleh Pak Uda korban yang berinisial B Rumapea, beliau menyebutkan bahwa, “Ditemukan Burger di sepeda motornya, yang menjadi pertanyaannya apakah orang mau bunuh diri sempat beli Burger,” ucap B dengan nada heran.

B Rumapea juga mencurigai adanya jejak tangan di kamar mandi, jejak tangan yang sama juga terlihat di kontrakan sebelahnya. Dikatakannya bahwa orang bisa masuk ke kontrakan korban lewat rumah kontrakan yang berada disebelahnya dimana rumah sebelah nya adalah rumah kosong. bahkan di temukan sisa makanan dan minuman yang masih rapuh belum terlalu masuk angin, dalam arti roti itu belum terlalu lama sekali ada dalam kamar rumah kosong.

Saksi utama dari kematian Riski membenarkan bahwa dia orang pertama yang menemukan mayat Riski tergantung di rumah kontrakan.

“Ia, kan saya nelpon tidak diangkat angkat, terus saya kerumahnya, karena setiap pagi saya datang untuk membangunkannya kerja, posisi kan dia tinggal sama adiknya, posisi adiknya tidak dirumah,” ucapnya.

Setelah ditelepon tidak di angkat – angkat, D langsung mengecek ke rumah kontrakan Riski.

“Saya mengecek ke rumah, sekitar jam 8 kurang saya sampai disitu ku lihat lampu luarnya hidupkan, kenapa belum bangun, pemikiran saya begitu. Terus ku lihat dari jendela kereta di dalam, kan kubuka tu jendela, jadi ku pikir ketiduran, ku gedor – gedor tak nyaut – nyaut, nah aku lihat dari lubang kunci nya didalam, jadi ku gedor – gedor gitukan biar jatuh, pas kuintip ada bayangan ku lihat seperti menggantung, teruskan masalahnya di kunci, aku tidak punya dan aku minta tolong yang punya kos,” beber D teman baik korban.

D juga meminta kunci serep kepada pemilik kost, namun pemilik kost menjawab tidak ada lagi kunci serepnya. Terus D meyakin pemilik kost bahwa dirinya melihat ada yang menggantung di rumah kontrakan tersebut.

“Terus dia dan anaknya ikut ke kontrakan, terus anaknya yang dobrak, nah disitu kejadiannya, kulihat dia begitu,” sambungnya.

Menurut D bahwa sebelum kejadian tidak ada cekcok mulut dengan korban.

“Kalau cekcok mulut tidak ada, karena masih baik – baik, Seninnya itu masih dibilang besok jangan lupa bangunin aku ya, aku gak jadi off karena kerjaan ku ada, si Rut tidak dirumah,” ucap D menirukan ucapan korban.

Kepada awak media D tidak bisa memastikan bahwa kondisi korban sedang keadaan terlilit atau tidak, hanya D memastikan bahwa kondisi korban sudah tergantung di depan pintu.

“Gak ngerti sih aku lihatnya, tapi dia diatas itu, aku minta tolong sama anaknya itu untuk angkat diakan,” ungkapnya.

D juga melihat didepan pintu ada sebuah koper, “Disitu kulihat dekat pintu ada koper,” ucapnya melalui telepon seluler pada Senin (25/4).

Kapolsek Percut Sei Tuan, Kompol M. Agustiawan saat dikonfirmasi melalui pesan singkat mengarahkan awak media untuk berkoordinasi dengan Kanit Reskrim Polsek Percut Sei Tuan.

“Silahkan koordinasi ke Kanit Reskrim Bapak,” ungkapnya.(021)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini